Lemon8 Video Downloader

The easiest way to download video and gallery from Lemon8 app

Bab 7. Suami Berulah, Istri Bertindak!

Bab 7. Suami Berulah, Istri Bertindak!

Desktop: Right-Click and select "Save link as..." to download.

PHOTOS
Bab 7. Suami Berulah, Istri Bertindak! JPEG Download

Ayah melakukan pe-le-ce-han terhadap pembantu!

Itulah yang selalu Ara tutupi dari Luna, adiknya. Hingga lelaki itu telah tua renta dan sering sakit-sakitan, ibu pun kembali mengusirnya akibat kelakuannya yang tidak pernah berubah. Ayah terlunta-lunta dan tinggal di ruang yang hanya sepetak, pengap, gelap, dan bersebelahan dengan kuburan. Dalam kesendiriannya, akankah lelaki tua itu bertemu Tuhan atau justru menjadikan ini sebagai sebuah kesempatan untuk kembali bermaksiat?

Alam bawah sadarnya menyeret ia ke penjara dan menyaksikan dirinya sendiri mati. Terbujur kaku dan telah dikafani, dikelilingi oleh banyak orang.

Surat di tahun 1980 menjawab semua pertanyaan.

Bab 7. Tiada Tempat yang Lebih Baik

Bangunan kecil yang lebih mirip kos-kosan karena memang hanya terdapat satu ruangan saja nampak jelas dalam pandangan. Atap teras yang kelihatan agak condong ke bawah, keramik bercorak kuning putih yang sepertinya berdebu tebal, ditambah keberadaan kandang ayam yang letaknya agak menyamping di depan rumah membuat ayah terlihat amat menyedihkan bila memang harus tinggal di situ.

Adi sebetulnya tidak tega. Akan tetapi sungguh letih tubuhnya malam ini. Menemani ayah berkeliling mencari tempat berteduh yang sebisa mungkin jauh dari rumah hunian ia bersama istrinya. Ibu yang marah besar benar-benar tak menginginkan wajah ayah berada dekat dengannya. Jangan sampai mereka bertemu dulu kalau tidak mau amarah ibu terbakar lagi.

Adi menangkap, inilah puncak dari kekecewaan dan benci yang selama ini dipendam ibu. Sebelum-sebelumnya, ibu tidak pernah berani merealisasikan pengusiran yang mungkin sangat diinginkannya. Akan tetapi lain dengan kali ini.

Ibu membiarkan lelaki yang telah membersamainya berpuluh-puluh tahun pergi meninggalkan istana yang dahulu mereka bangun bersama. Ibu tidak lagi memanggilnya kembali.

Cinta lenyap dan semacam sudah tak ada lagi malaikat baik bersarang di hatinya dan setan telah berhasil menerobos masuk. Menggoda, bahkan menggerogoti perasaan dan pikiran ibu agar ikut tunduk dengannya.

“Ini tempatnya?” Ayah terbelalak saking tidak percaya.

“Iya, tinggal ini satu-satunya yang belum dikontrak orang pak. Kalau bapak mau ya silakan. Tapi ya memang begini keadaannya. Tiga bulan yang lalu sih masih ada yang menyewa, pasangan orang tua. Tetapi namanya jalan hidup orang kan enggak ada yang tahu ya. Suaminya meninggal, eh anak-anaknya pada datang terus minta ibunya ini tinggal dengan mereka. Tapi enggak tahu kenapa dengar-dengar kabar terakhir malah katanya si ibu itu sekarang ada di panti jompo.”

“Panti jompo?”

“Iya. Itu juga kata tetangga di sini yang enggak sengaja melihat ibu itu ada di sana. Padahal anak-anaknya itu ya kelihatannya berduit semua loh. Pada pakai mobil kalau ke sini. Ada juga yang pakai motor, tapi motor gede.” Bapak itu kemudian geleng-geleng kepala. “Anak jaman sekarang, memang beda ya sama jaman dulu. Sekarang sih boro-boro mau hormat sama orang tua, dimintai tolong saja susah. Padahal ya kalau sudah enak begitu, kenapa orang tuanya enggak tinggal saja dengan mereka? Kan tinggal duduk manis. Tidur tinggal tidur. Makan tinggal makan. Enggak perlu hidup susah dengan menguras keringat, cari kerja di luar. Jadi surga juga buat anak-anaknya. Semasa kecil mereka sudah dididik dan dibesarkan, sudah besar dan mandiri tinggal melakukan balas jasanya. Toh, mereka sukses juga pasti berkat doa dari orang tua. Iya enggak pak?” Bapak itu menoleh ke ayah yang kemudian dibalas hanya dengan senyuman kaku.

“Jadi yang menempati, si bapaknya meninggal di sini?” Rona wajah ayah terlihat was-was.

“Iya pak.”

Dari kalimat-kalimat tanya yang dilontarkan ayah, Adi dapat menangkap sebongkah kegelisahan. “Yah, semua orang kan pasti akan kembali pada pemiliknya termasuk kita.”

Bapak itu tertawa pendek. “Iya pak. Lagipula di rumah-rumah lain juga pasti pernah mengalaminya. Bukan begitu mas?” Bapak itu melempar tanya kepada Adi.

“Iya pak.”

“Tapi ngomong-ngomong yang mau nempati di sini itu siapa? Mas Adi atau dengan bapak juga?”

Adi tersenyum berat. “Tidak pak. Hanya bapak saya.”

Bapak itu mengangguk-anggukan kepala dengan ragu. “Oh, jadi bapaknya Mas Adi ini yang akan menempati?”

“Iya pak. Bapak mertua saya.”

“Oh, bapak mertua. Loh, kenapa tidak tinggal dengan Mas Adi saja?” Bapak itu kemudian tertawa kikuk. “Pasti karena tidak mau merepotkan anak ya pak? Sama seperti pasangan yang barusan saya ceritakan itu. Katanya tidak mau menyusahkan anak. Ya, jadi bagaimana pak, mas?”

Adi merapatkan tubuhnya ke ayah. “Tidak mengapa ya yah?”

Dahi ayah berkerut. Ia menyatukan bibirnya ke dalam. “Ya kalau memang tidak ada pilihan lain apa boleh buat. Lagipula besok kan kamu harus berangkat ke kantor.”

“Ini sudah hampir menjelang pagi yah.”

“Iya saya tahu. Ya sudah, kamu pulang. Kasihan Ara dan Kalya juga.”

Adi menelan ludah. Ia tak bisa bayangkan bila yang berada di dalam sana ialah kedua orang tuanya. Akan sangat menyakitkan kalau sampai itu terjadi.

“Sebulannya berapa ini pak?”

“Empat ratus.”

“Empat ratus? Mahal amat. Ini kampung yang terpencil loh pak.”

“Ya sudah, boleh tiga setengah deh.”

“Tiga ratus ya?”

Adi memijit keningnya. Astaga, jatah tidur malamnya sudah terbuang banyak dan ia mesti menunggu sampai kata sepakat itu didapat. Mau sampai kapan?

“Ya sudah boleh. Khusus buat bapak dan Mas Adi. Biasanya enggak saya kasih loh.”

Ayah mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menyerahkan lembaran uang yang diminta.

“Harga segini baru masuk akal.”

Bapak itu kemudian menghitung jumlah uang yang sudah di tangannya. “Enggak sekalian sampai beberapa bulan ke depan pak?”

“Satu bulan dulu. Kalau saya bisa betah, nanti gampang perpanjang.”

Bapak itu mengangguk. “Siap. Oh iya pak, ini kandang mau dipakai enggak kira-kira? Kalau enggak, mau saya bongkar besok.”

“Buat apa. Bongkar saja.”

“Siap.”

Bapak itu lalu merogoh saku celananya. “Barangkali mau dilihat dulu dalamnya boleh.”

“Tidak perlu. Saya mau langsung masuk dan istirahat. Kalian boleh pulang,” kata ayah sambil mengembalikan dompetnya ke saku.

“Adi ambil tas ayah dulu.” Adi menuju kendaraannya, kemudian kembali lagi dengan menjinjing sebuah tas besar berisi pakaian milik ayah. Pandangannya tertuju pada gerakan tangan ayah yang nampak saling memijit. Ayah kemudian mengepalkan dan membuka lagi kedua tangannya. Gerakan yang selalu ayah lakukan ini katanya bisa mengurasi rasa kaku pada jari-jari tangan, walau itu tetap tidak bisa hilang.

Ayah menerima tas besar itu dan menjinjingnya. “Ya sudah, kamu bisa pulang. Kasihan juga Ara menunggu kamu.”

“Iya yah. Adi pamit ya yah. Jaga diri baik-baik.” Adi mencium punggung tangan ayah.

“Saya pamit ya pak, Mas Adi.”

“Ya pak. Terima kasih banyak.”

Bapak itu mendekati kendaraannya dan melaju.

“Di, tolong yakinkan ibu ya, jika saya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi dan saya berjanji akan berubah.”

Adi terdiam sesaat. Ia masih ingat betul, betapa kalimat itu selalu terlontar dari lisan ayah setiap kali usai melakukan kesalahan. Adi sampai hapal bunyi kalimat itu.

“Iya yah. Adi akan bantu ayah agar bisa mendapatkan kepercayaan lagi dari ibu. Tapi ayah harus janji pada diri ayah sendiri terutama, jika ayah benar-benar akan berubah. Bertobat pada Allah dan memohon ampun.”

“Iya Di.” Entah tulus atau tidak kalimat ayah ini, namun dari intonasi yang dilafalkan sepertinya terdengar datar dan tidak menyiratkan penyesalan sama sekali. Semacam kalimat ini sudah biasa terucap, sehingga dengan mudahnya terlontar tanpa ada beban sedikitpun. Rona wajah ayah saat mengucapkannya pun terlihat tanpa ada penderitaan apapun.

Oh Tuhan, semoga dugaan Adi kali ini keliru.

Dengan langkah dan perasaan memberat, Adi pergi meninggalkan ayah menuju kereta besinya yang terparkir dan memacunya kembali ke arah kota. Sementara ayah yang masih berdiri terpaku tak memiliki keberanian lebih untuk melanjutkan langkahnya.

Angin dingin berdesir. Perasaan ayah mulai gemetar dan bergidik.

Gulita. Tanpa lampu teras di hadapan yang menyala. Sekeliling seakan tak bernyawa dan bila mengingat selang beberapa rumah dari sini merupakan tempat pemakaman umum… Oh tidak, suasana seperti ini sangat mengerikan. Tak adakah tempat di dunia ini yang lebih baik dan pantas untuk ditujukan kepadanya yang kini tengah menerima hukuman atas perbuatannya? Para terpidana yang berada di dalam sel penjara saja, mereka tidak sendirian. Beramai-ramai dan tinggal di tempat yang memiliki alat penerang. Tidak merasa sendiri dan ketakutan. Kecuali, bagi mereka yang sedang menanti datangnya hukuman mati.

Tetapi ini berbeda. Rasa takut yang mungkin saja dapat membuatnya mati berdiri. Bukankah sudah banyak kasusnya? Rekan-rekan ayah yang mendadak meninggal dunia. Sebab terkena serangan jantung misalnya. Oh tidak, meskipun ayah tidak memiliki riwayat penyakit tersebut, namun di jaman sekarang apa yang tidak mungkin.

Berbagai pikiran yang aneh-aneh tentang makhluk tak kasat mata pun berkecamuk dalam benak ayah. Membuatnya tambah ketakutan.

Ayah lalu berbalik badan dan berganti haluan sembari masih menjinjing tas besarnya. Berjalan ke arah rumah di seberang yang selain lampu teras, lampu jalanan di depannya pun menyala terang.

Sesampainya di rumah yang tentu memiliki tuannya itu, ayah berdiri tepat beberapa langkah dari teras depan dan ia bergumam, “Ini lebih baik.”

Dalam keadaannya yang masih menggenggam erat kemudi, Adi mengurai kembali kejadian yang telah lalu. Bagaimana ayah selalu menunduk memasang wajah memelas di depan ibu yang marah besar. Bagaimana setelahnya, Ara, sang istri yang amat dicintainya kemudian lebih sering melamun dan gagal fokus terhadap yang sedang dikerjakan. Lalu bagaimana ibu yang menjadi korban pengkhianatan berkali-kali atas tindakan tidak senonoh yang dilakukan ayah terhadap pembantunya tak akan pernah bisa sanggup berdusta di sebalik wajah yang senantiasa terlihat baik-baik saja. Tetap tersimpan luka yang amat pedih dan dalam.

Ibu dan Ara adalah wanita yang sama-sama tersakiti hatinya, sebab ulah ayah dan Adi rasa, itupun yang juga ditanggung Luna, sebagai anak bungsu yang menurut kisahan Ara, sejak kecil dirinya selalu berusaha melindungi agar Luna tidak pernah mengetahui jika hubungan kedua orang tua mereka seringkali meretak dan pecah.

Adi belajar banyak dari semua ini. Di mana hati perempuan sebenarnya amatlah rapuh dan berupaya untuk tetap tegar dan kuat hanya demi sebuah nama. Cinta.

“Di, cinta itu tidak akan bisa sekuat cinta yang seutuhnya, jika kamu belum berbuat apa-apa. Belum berjuang dan berkorban apa-apa. Ingat Di, cinta tidak pernah meminta atau memaksakan. Ia seharusnya memberi dan menerima. Kelak, kamu akan mengerti.” Ibu mengelus rambut Adi saat lelaki itu baru menyadari, bahwa hatinya telah jatuh di tempat yang tidak semestinya.

Novel tamat Menjahit Luka

Penulis FauzanAdzima

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:

https://read.kbm.id/book/detail/68941db5-efa9-f069-acfd-fd75a46218b9

Kota Cirebon #Lemon8Leaderboard #myonething #ApaCumaAku #Bersyukur #PengalamanBuruk #kbmapp #kbmauthor #novel #novelrekomendasi #novels